Desa-desa dengan Kearifan Lokal di Tanah Air

Tentu saja siapa pun tahu bahwa tanah air kita merupakan negara kepulauan yang mempunyai kekayaan ragam budaya serta tradisi. Beberapa wilayah di Indonesia bahkah masih mempertahankan kekhasan budaya serta menjaga kearifan lokal. Hal ini tak jarang menimbulkan rasa ingin tahu dan ketertarikan sehingga menjadi atraksi wisata yang diminati para pelancong.

Beberapa desa yang memiliki kearifan lokal di Indonesia

Inilah beberapa desa di Indonesia yang masih mempertahankan tradisi nenek moyangnya hingga saat ini.

1. Desa Penglipuran

Desa ini terdapat di Bangle, Bali dan termasuk salah satu desa yang tertua, yaitu sejak abad ke-18. Desa Penglipuran ini adalah daerah yang memperlihatkan keharmonisan akulturasi antara masyarakat Bali Aga dengan Bali Majapahit.

Di desa inilah terbentuk masyarakat yang merupakan percampuran dari Desa Bayung Gede (kelompok Bali Aga) dan Kerajaan Bangli (kelompok Bali Majapahit). Yang unik dari Desa Penglipuran ini adalah keseragaman di bagian depan rumah penduduk mulai dari ujung desa sampai bagian hili.

Selain itu ada pula lorong yang menghubungkan satu rumah ke rumah lain yang membuktikan persaudaraan togel hongkong 2020 erat antar masyarakat.

2. Desa Sade Lombok Desa ini berada di Rembitan, Kecamatan Puju, Lombok Tengah

Berkunjung ke desa ini Anda dapat melihat rumah-rumah penduduk asli Lombok, yaitu suku Sasak. Rumah-rumah di Desa Sade Lombok ini mempunyai model bangunan yang seragam, yaitu berdinding anyaman kayu, dan atapnya berupa ilalang kering.

Yang paling unik dari rumah ini adalah lantainya yang dilumuri kotoran kerbau atau sapi. Di desa ini setiap pria yang ingin meminang wanita untuk dijadikan pasangannya harus diculik terlebih dahulu atau disebut kawin lari.

3. Desa Wae Rebo

Yang khas dari Desa Wae Rebo adalah keberadaan 7 rumah adat yang berbentuk kerucut. Desa Wae Rebo dari sisi pariwisata dapat dikatakan sudah dikelola baik serta dilengkapi fasilitas lengkap. Anda juga dapat menemukan penginapan di tempat ini.

Rumah adat yang terus dilestarikan hingga 19 generasi tersebut dinamakan Mbaru Niang. Seluruh rumah terbuat dari dari kayu dengan atap berbentuk kerucut dan dibuat dari tanaman ilalang kering.

4. Desa Baduy Desa Adat Baduy atau Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Banten

Di jaman modern seperti saat ini desa di pedalaman Banten ini masih begitu ketat menjaga tradisi. Masyarakat Baduy di desa ini terbagi menjadi 2, yaitu Baduy Dalam dan Baduy Luar yang tinggal di 65 kampung. Masyarakat Baduy Dalam tinggal di kampung Cikartawana,Cikeusik, dan Cibeo.

Di sini Anda dapat menikmati kecantikan alam sekaligus memahami cara hidup masyarakat yang begitu alami dengan kearifan lokalnya untuk melindungi lingkungan sekitar.

Bila ingin berkunjung ke kampung Di Baduy Dalam Anda dilarang mengambil foto serta video, harus memperhatikan langkah Anda karena ada lahan-lahan yang tak boleh dimasuki orang asing. Selain itu turis mancanegara juga tidak diterima di tempat ini.

Harap diingat bahwa ada masanya atraksi wisata ini tertutup penuh selama 3 bulan yang disebut bulan Kawalu, yaitu pada bulan Februari sampai April.

5. Desa Trunyan

Bukan seperti keyakinan Hindu pada umumnya yang melakukan kremasi pada jenazah, masyarakat Hindu di Desa Trunyan mempunyai tradisinya sendiri. Desa yang terletak di pinggir Danau Batur, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli ini tidak membakar atau menguburkan jenazah melainkan meletakkan jenazah di permukaan tanah yang dinamakan Sema Wayah.

Posisi jenazah dibaringkan pada tanah dangkal yang digali sedikit hingga berbentuk cekungan panjang. Sebagai pelindung jasad pada waktu prosesi hanyalah Ancak Saji atau anyaman bambu berbentuk segi tiga. Setelah ritual keagamaan jenazah ditinggalkan dengan anyaman bambu tersebut hingga terurai secara alami.