Pengungsi Banjir Jakarta di Gereja Kebon Pala diperlukan Anti Diskriminasi

Musibah banjir kembali lagi melanda DKI Jakarta dan sekitarnya. Namun di sela-sela kesusahan itu, selalu ada cerita yang layak diceritakan kepada khalayak.

Tanpa Diskriminasi, Mengungsi Bersama di Gereja Kebon Pala

Begitu banyak anak-anak yang berada di halaman Gereja Santo Agustinus, di Kebon Pala, Kampung Makasar, Jakarta Timur. Di halaman depan mereka bermain petak umpet bersama dan sebagian yang lainnya bermain ayunan di taman gereja tersebut.

Di bagian belakangm, di halaman belakang gereja, terpasang tenda totobet sgp yang cukup besar. Di dalamnya, ada beberapa orang pengurus gereja yang sibuk memasak sajian makan malam. Gereja Santo Agustinus ini adalah posko pengungsian untuk para warga Kampung Sawah, Keluarahan Kebon Pala, Kecamatan Makasar, Jakarta Timur yang mana terdampak banjir hari Selasa (25/2).

Banjir yang melanda di wilayah Kampung Sawah, Keluarahan Kebon Pala ini tergolong parah. Di titik-titik tertentu bahkan ketinggian airnya mencapai lebih dari 2 meter. Akibatnya, tak sedikit warga yang harus mau mengungsi ke Gereja Santo Agustinus. Tercatat ada sebanyak 647 pengungsi. Dan seluruhnya adalah warga kampong RW 10 Kampung Sawah, Kelurahan Kebon Pala, Kecamatan Makasar, Jakarta Timur.

Pihak gereja pun tak menerapkan syarat apa pun untuk warga yang ingin mengungsi di sana. Gereja terbuka bagi semua kalangan dan seluruh umat beragama. Warga yang datang ke gereja Cuma akan didata nama dan juga anggota keluarganya saja. Hal tersebut dilakukan untuk menghitung jumlah pengungsinya supaya bantuan makanan dan kebutuhan pokok bisa terdistribusi dengan baik.

Pihak Gereja Tak Lakukan Diskriminasi Pada Para Pengungsi

“Saat datang kemari, kami persilakan istirahat, kami tak melihat KTP-nya, terserah apa mau agamanya, yang penting bisa selamat,” ungkap salah satu pengurus gereja bernama Suparlan yang saat diwawancarai baru saja pulang dari pasar membeli kebutuhan makanan bagi pengungsi di sana. Tugasnya di posko banjir tersevut adalah sebagai tim logistic yang mempersiapkan kebutuhan dapur dan juga kebutuhan pengungsi.

“Bolak-balik pasar untuk beli keperluan makanan dan pengungsi, ada anak balita, kita beli pampers (popok bayi), susu, semua kebutuhannya kita siapkan,” lanjutnya.

Ia juga ditemani oleh Julius Iwan (49) yang juga merupakan pengurus gereja, sebagai tim logistic. ia mengaku senang dapat membantu para warga sekitar yang mana terdampak banjir. “Semua di sini sukarela, kami tujuannya di sini membantu, kalau niat baik selalu ada jalannya,” katanya sembari menyiapkan gas elpiji 3 kg di dapur umum.

Sementara itu, Koordinator dapur umum Gereja Santo Agustinus, Irenevanda pun mengaku bahwa ia senang dapat membantu warga yang mana harus meninggalkan rumahnya karena banjir yang melanda. Ia bahkan mengaku selalu menyiapkan gereja sebagai salah satu posko saat hujan turun. “Pokoknya kalau hujan turun, langsung siap sedia untuk buka posko, beli makanan dan pasang tenda,” ungkapnya sambil ia menyiapkan sayur-sayur untuk makan malam nantinya.

Soal pendanaan, Irene sendiri menjelaskan bahwa seluruh kebutuhan posko pengungsian ini menggunakan dana kas gereja. “Semua pakai dana kas gerejam ada juga sumbangan dari luar, tapi gereja selalu menyisihkan setiap bulannya,” imbuhnya.

Ratusan pengungsi di sana ditempatkan di gedung serbaguna yang luas dan juga sudah diberi alas karpet. Selimut dan bantal pun sudah diberikan untuk warga yang mengungsi di gereja. Tak hanya itu, dokter dari puskesmas terdekat juga diminta melayani pengungsi yang sakit.