Demo May Day di Jogja Serta Geliat Penolak-Penolak Bandara Kulon Progo

Tidak ada Prabowo Subianto dalam rangka peringatan Hari Buruh Internasional atau May Day di Yogyakarta pada tanggal 1 Mei yang lalu. Akan tetapi, ternyata aksi demo yang ada di yogyakarta jauh lebih panas ketimbang aksi demo yang ada di Jakarta.

Tak Ada Unsur Buruh

Tanpa adanya deklarasi dukungan politik pada salah satu calon kandidat capres, demonstrasi Hari Buruh Internasional atau May Day yang ada di Yogyakarta, tepatnya dihelat di kawasan Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga malahan mengusung isu Tolak New Yogyakarta International Airport atau Bandara Kulon Progo.

Coretan-coretan yang bertuliskan ‘Bunuh Sultan, Bunuh Sultan’ pasalnya juga ikut terpampang di sekitar lokasi demo. Aksi itu juga berujung pada kericuhan. Sebuah pos polisi juga dibakar massa yang mana sebagaian besar adalah mahasiswa. Ada sedikitnya 3 orang yang ditetapkan sebagai tersangka kasus pembakaran itu.

Kepolisian Daerah Istimewa Yogyakarta dan juga Sultan Hamengku Bowono X sangat menyayangkan aksi demo yang mana disusupi isu penolakan pada Bandara Kulon Progo. Kapolda DIY BrBrigjend Pol Ahmad Dhofiri sendiri bahkan menyebutkan bahwa isu tersebut tidak ada kaitannya dengan kepentingan buruh. Sesuatu yang tak jelas, menurutnya.

Namun lain halnya dengan apa yang dikatakan oleh Hamzal Wahyudin, Direktur LBH Yogyakarta yang menjelaskan bahwa masyarakat menolak pembangunan bandara togel online terpercaya itu tak lain karena ada kaitannya dengan sumber penghidupan masyarakat. “Alasan kawan-kawan yang menolak bandara ini karena sudah sejahtera dengan lahan pertanian yang menjadi sumber kehidupan keluarganya. Pertanian mereka lah yang menjadi pasokan pangan untuk kebutuhan Daerah Istimewa Yogyakarta, ” ungkapnya dilansir dari CNN Indonesia.

Konflik Pembangunan Bandara Kulon Progo

Sampai hari ini,  pembangunan Bandara Kulon Progo memang masih menjadi kontroversi. Akan tetapi, menurut Kapolda DIY, penolakan yang mana disampaikan ketika momen May Day itu tidak lah signifikan.

Ia beralasan bahwa penolakan tersebut hanya dilakuka oleh segelintir orang saja. Padahal menurutnya kurang lebih ada 2.700 orang telah menerima pembangunan bandara di Kulon Progo.

Ia menambahkan bahwa pembangunan bandara di Kulon Progo itu telah sampai di tahap konsinyasi atau artinya menitipkan ganti rugi ke pihak pengadilan. “Untuk kepentingan umum pembangunan bandara maka uang itu di pengadilan. Jadi nanti kalau sewaktu-waktu mau menuntut, gugat segala macam, monggo saja duitnya di pengadilan, ” sambungnya ketika dihubungi lewat sambungan telepon.

“Dan uangnya juga sudah melalui apraisal. Artinya, itu bukan lah semena-mena, sudah disesuaikan dengan warga masyarakat lain yang telah menerimanya. Jadi bukan soal gusur begitu saja, namun sudah melalui proses hukum,” imbuhnya.

Sementara masih dalam proses konsinyasi, pihak Angkasa Pura I yang bertindak sebagai pihak yang membangun Bandara Kulon Pogo, akan segera melakukan eksekusi tanah milik warga yang menolak bandara yang sampai sekarang masih bertahan di kawasan izin penetapan lokasi bandara.

Surat peringatan yang pertama sampai yang ketiga pun diklaim telah dilayangkan pada warga. “Pada saat kami akan melakukan pengosongan lahan, kami tak perlu memberi tahu pada masyarakat, ” ungkap juru bicara Proyek Pembangunan NYIA PT AP I, Agus Pandu Purnama, dilansir dari CNN Indonesia.

Namun sayangnya, Agus tidak mau memberikan kepastian kapan bakal dilakukan eksekusi paksa mengingat masih ada sebanyak 107 jiwa yang menolak bandara dan masih bertahan di kawasan izin Penetapan Lokasi (IPL). Akan tetapi ia berharap warga mulai pindah keluar dari areal lahan proyek.