Gagal di Tanah Air, Film TURAH Wakili Indonesia di Oscar 2018

Prestasi perfilman Indonesia memang sudah mulai menggeliat. Semakin berkurangnya komedi dan horor slapstick yang mengedepankan seks atau adegan vulgar, kini para sineas bangsa semakin berani menawarkan cerita baru. Keberanian itu pula yang akhirnya membuahkan hasil manis bagi Wicaksono Wisnu Legowo.

 

Filmnya yang berjudul TURAH mampu mencetak prestasi membanggakan lantaran terpilih mewakili Indonesia dalam ajang perfilman paling bergengsi di dunia, Academy Awards 2018. Masuk dalam nominasi Film Berbahasa Asing Terbaik, Turah yang sebelumnya sudah tampil di Singapore International Film Festival ini akan menjadi ‘wajah’ Indonesia dalam perihal industri filmnya di depan sineas-sineas dunia nanti.

 

Terpilihnya TURAH untuk masuk seleksi Oscar 2018 ini diumumkan oleh Ketua Komite Seleksi Persatuan Perusahaan Film Indonesia (PPFI), aktris Christine Hakim pada 19 September lalu. Diharapkan, TURAH akan membuat gaung perfilman Indonesia di dunia internasional bisa berimbas positif pada kemajuan industri film Tanah Air.

 

Mengusung Cerita Jawa Tengah

 

Wicaksono sebagai sutradara mengenang bahwa awal mula TURAH berhulu pada tahun 2014. Saat itu dirnya mendapat motivasi dari sutradara Poker online Indonesia senior, Ifa Isfansyah untuk membuat film. Dan akhirnya Ifa pun duduk di bangku produser film TURAH. Setelah itu, Wicaksono langsung membuat cerita dan naskah yang harus direvisi pada tahun 2016 dan berlanjut ke proses syuting.

 

TURAH sendiri mengusung kisah soal problematika warga kampung Tirang, Tegal di provinsi Jawa Tengah yang terisolasi selama bertahun-tahun. Kampung mereke sendiri dikuasai oleh para pemilik modal. Sehingga sejumlah warga mulai berjuang atas ketidakadilah yang mereka rasakan selama sebelas tahun tinggal di Tirang. Menggunakan bahasa Tegal yang diusung sepanjang film, tak heran kalau Pangtap (Panitia Tetap) Komite Seleksi PPFi memilih TURAH sebagai perwakilan Indonesia. Kepada Kompas, Christine pun angkat bicara.

 

“Salah satu kekuatan dari film ini adalah kejujuran dan kesederhanaan. Apakah itu dari segi tematik ataupun segi penggarapannya. Tidak ada pretensi untuk buat film yang genit atau kultural edukatif atau mau menjual kemiskinan. Pesannya kuat sekali film ini. Terutama krisis nilai moral yang kuat sekali tergambar dalam film ini. Pesan itu kuat dan disampaikan secara sederhana dan jujur. Pemainnya jujur, tidak ada bintang poker online terkenal. Performance-nya luar biasa sekali,” tutup Christine.

 

Gagal di Tanah Air

 

Meski meraih prestasi luar biasa dengan jadi wakil Indonesia di ajang Oscar 2018, faktanya TURAH justru mendapat apresiasi rendah dari penonton Indonesia. Tayang perdana di bioskop Tanah Air pada 16 Agustus 2017, TURAH justru hanya mendapat total 16 layar di seluruh Indonesia dan cuma bertahan selama dua pekan.

 

Namun meskipun penonton Indonesia tampak malas, film yang memenangi tiga kategori dalam Jogja-Netpac Asian Film Festival ini berhasil lolos seleksi dari 130 film Indonesia untuk jadi wakil di Oscr 2018. Kegembiraan jelas dirasakan oleh Wicaksono karena film yang memulai proses syuting tahun 2016 ini bisa berumur panjang dan mendapatkan apresiasi tinggi dari kalangan penggiat film. Yang unik, produser  Ifa awalnya sempat ragu lantaran TURAH memiliki skenario begitu serius, bukannya jenaka seperti yang dilihat Ifa dari sosok Wicaksono.

 

Entah akan seperti apa sepak terjang TURAH dalam Oscar 2018, yang pasti terpilihnya film ini menjadi wakil Indonesia adalah kategori Film Berbahasa Asing Terbaik tentu wajib mendapat dukungan besar. Semoga pemerintah dan penonton Indonesia makin peduli pada film asli karya anak bangsa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *