BI Bakal Tetapkan Beban Biaya Isi Ulang Uang Elektronik

Tidak ada yang gratis dalam hidup ini jika menyangkut barang dan jasa. Rasa-rasanya sekarang jika seorang manusia ingin mendapatkan sesuatu, harus mengeluarkan terlebih dahulu. Bahkan jika ingin memperoleh uang elektronik alias e-money, harus ada sejumlah biaya yang dikeluarkan. Hal itulah yang dalam beberapa waktu belakangan menjadi polemik tersendiri di masyarakat.

 

Seperti yang kamu ketahui, perubahan kebiasaan agar masyarakat perkotaan semakin menggunakan e-money daripada uang konvensional mengakibatkan permintaan isi ulang e-money meningkat. Hanya saja rupanya setiap kali seseorang menambah jumlah saldo e-money miliknya, mereka harus membayar biaya berkisar dua ribu hingga empat ribu rupiah. Dianggap beberapa orang merugikan, Bank Indonesia (BI) justru akan menetapkan kebijakan bandar togel singapura yang mengatur pemerataan biaya isi ulang (top up) e-money.

 

Bank Mandiri Masih Tak Pungut Biaya Isi Ulang

 

Direncanakan, aturan mengenai biaya isi ulang e-money akan diterbitkan pada akhir tahun 2017. Akan ada banyak hal yang diatur seperti pengelompokkan jenis top up e-money jadi dua kategori. Kategori itu adalah on-us (isi ulang oleh bank penerbit) dan off us (isi ulang lewat fasilitas bank lain atau pihak ketiga).

 

Untuk transaksi on-us akan ada batas nilai tertentu di mana jika pengisian tak melebihi batas maka bakal gratis biaya top up atau sebaliknya. Sementara untuk off-us akan ada biaya isi ulang yang diseragamkan. Karena dalam perkembangannya, ada perbedaan biaya top up di sejumlah lokasi. Seperti isi ulang di halte Trans Jakarta yang membebankan Rp 2.000 dan toko-toko ritel yang menetapkan Rp 3.000-4.500 setiap isi ulang. Nantinya dengan aturan yang tengah digodok BI, biaya bakal diseragamkan di kisaran Rp 1.500-2.000.

 

Menanggapi aturan baru itu, Bank Mandiri selaku pihak bank penerbit e-money menyebutkan jika sampai saat ini mereka tidak mengenakan biaya isi ulang e-money yang dilakukan di ATM Bank Mandiri. Dilansir Merdeka, beban biaya yang diatur BI itu diperuntukkan untuk pihak di luar bank penerbit. Meski demikian, Bank Mandiri akan mengikuti segala keputusan BI.

 

Di Luar Negeri Isi Ulang E-Money Gratis

 

Bicara soal polemik beban biaya isi ulang e-money, sejatinya Indonesia sudah tertinggal jauh termasuk dalam segi penggunaan. Di luar negeri, berbagai moda transportasi umum sudah terintegrasi langsung dengan uang elektronik yang jelas memudahkan siapapun. Bahkan di Belanda, Korea Selatan atau Singapura, tidak ada namanya biaya isi ulang saldo uang elektronik.

 

Seperti contohnya di Belanda yang menggunakan kartu uang elektronik bernama OV Chipkaart. Bisa untuk membayar semua transportasi umum mulai kereta, bus sampai trem, pengguna hanya harus membayar 7-7,5 euro di awal untuk membeli OV Chipkaart dan setelah itu tak ada biaya apapun setiap kali isi ulang di manapun.

 

Tak jauh berbeda, di Korea Selatan yang telah memakai kartu T-Money atau MyBi Card sejak lama juga hanya menetapkan biaya 2.500-8.000 won saat pembelian kartu. Segera setelahnya, tak ada biaya sepeserpun yang dikeluarkan setiap kali isi ulang. Tidak ada masa kadaluwarsa, kartu ini juga bisa digunakan untuk berbelanja.

 

Dilansir Merdeka, beberapa negara maju bahkan sudah memiliki kartu khusus yang dirancang untuk para turis. Sebagai orang-orang yang hanya berkunjung sementara, kartu khusus uang elektronik bagi turis inipun juga hanya membebankan biaya di awal pembelian saja. Karena setelah itu tak ada biaya yang bakal dikeluarkan setiap kali top-up.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *